Akibat Keterisolasian dan Ketiadaan Infrastruktur Jalan Darat

Ketika Warga Katingan Kuala Harus Meregang Nyawa di Tengah Sungai

Akibat Keterisolasian dan Ketiadaan Infrastruktur Jalan Darat
 Jum`at, Tanggal 10-08-2018, jam 01:17:18
Jenazah Muntamah ketika disemayamkan di rumahnya di Desa Jaya Makmur Kecamatan Katingan Kuala, Kamis (9/8).

Ibu Muntamah (50) warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan harus menghembuskan napas terakhirnya di Sungai Hantipan. Dia terlambat mendapatkan penanganan kesehatan lanjutan saat harus dirujuk ke Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur.

==============

BERATNYA medan yang harus dilalui akibat keterbatasan akses infrastruktur transportasi, mengakibatkan banyak warga di Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan, kesulitan untuk mendapatkan fasilitas pelayanan yang cepat dan tepat. Seperti di bidang kesehatan.

Untuk mencapai Kota Sampit atau Kasongan, warga hanya bisa menggunakan sarana transportasi sungai. Karena sampai saat ini, belum ada akses jalan darat yang mencapai daerah yang berada di pesisir itu.

Kesulitan itu semakin menjadi tatkala musim kemarau. Akibat debit air sungai yang surut. Perahu atau kelotok kecil pun harus berjuang sedemikian rupa untuk bisa melalui gosong-gosong yang banyak bermunculan.

Belum lagi jika ada kendala atau hambatan teknis yang bisa bisa terjadi setiap saat di tengah perjalanan.

Almarhumah Muntamah, hanya salah satu contoh korban sulitnya akses transportasi itu.

"Ibu (Muntamah, red) naik kelotok ces (perahu kecil muatan 3-4 orang). Karena airnya surut, dan saat masuk Sungai Hantipan, mesinnya rusak. Terpaksa harus menunggu mesin pengganti. Tapi setelah mesinnya di perbaiki. Ibu sudah tidak ada lagi (meninggal),” tutur Imam Ma'ruf, saudara almarhumah Muntamah, Kamis (9/8).

Menurut Imam, saat itu Muntamah semestinya harus segera dibawa ke Sampit untuk menjalani pengobatan lanjutan, setelah dirujuk oleh dokter di puskesmas setempat. Karena jarak terdekat adalah ke Sampit, dibanding ke Kasongan atau Palangka Raya.

Sehingga pada Kamis pagi, bersama beberapa keluarga, Muntamah pun dibawa menggunakan kelotok.

Namun perjalanan tak selancar yang diharapkan. Di tengah perjalanan harus terhenti, karena Sungai Hantipan yang surut dan sulit dilalui. Akhirnya harus berganti dengan kelotok yang lebih kecil (ces).

"Meskipun kami menyadari bahwa semua kejadian ini adalah takdir Allah. Namun kami berharap kepada pemerintah, agar bisa memerhatikan akses infrastruktur ke wilayah ini. Jika kondisi sungai normal saja, untuk mencapai kota memerlukan waktu sekitar 4 jam, maka ketika air surut seperti sekarang, perjalanan harus ditempuh paling cepat 5-6 jam,” lanjut Imam.

Sementara itu, dr Noni Mariani Tumanggor dari puskesmas setempat mengungkapkan, sebelumnya Muntamah didiagnosa terkena stroke dan harus mendapatkan perawatan lanjutan ke RSUD di Sampit.

"Pagi itu sakitnya penurunan kesadaran. Diagnosa kita suspect stroke non hemoragic. Beliau juga memiliki gejala darah tinggi. Dan harus dirujuk ke RSUD Murjani Sampit,"  ujarnya.

Pihaknya juga sudah berupaya membantu melakukan penanganan maksimal, namun karena keterbatasan alat dan atas permintaan keluarga, akhirnya pasien dirujuk ke Sampit. 

Saat di perjalanan pun, imbuh Noni, Muntamah sudah dipasang infus dan mendapat pendampingan perawat Puskesmas Pegatan II.

Menurut Noni, kejadian seperti dialami Muntamah, sesungguhnya bukan yang pertama kali terjadi menimpa warga di daerah itu.

“Kasus seperti ibu Muntamah ini sebenarnya sudah beberapa kali terjadi, namun karena penanganan cepat dan akses jalan (kondisi sungai normal) memadai pada waktu itu menuju Sampit, maka pasien  bisa ditangani,” pungkas Noni. (*/ol/nto)

Berita Terkait