SKTM Tak Boleh Disalahgunakan

 Jum`at, Tanggal 21-09-2018, jam 09:23:42
SAMBUTAN: Wakil Gubernur Kalteng Habib H. Said Ismail memberikan sambutan, dalam kegiatan Rakor penanggulangan kemiskinan di Aula Bappedalitbang, kemarin. SRI/KALTENG POS

PALANGKA RAYA-Permasalahan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah untuk mengurainya kearah yang lebih baik. Meskipun sudah ada penurunan angka kemiskinan, namun Pemprov Kalteng tetap berharap agar tidak ada yang menyalahgunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Dikatakan Wakil Gubernur Kalteng Habib H Said Ismail, masyarakat diminta untuk tidak menyalahgunakan SKTM. “Data angka kemiskinan yang ada itu mesti riil. Agar tidak ada masyarakat mampu yang menyalahgunakan SKTM untuk kepentingan pribadi,” tegasnya di Aula Bappedalitbang, kemarin.

Ditambahkannya, SKTM juga bisa dijadikan acuan untuk mengukur angka kemiskinan. Sebab, bila ada yang berobat dengan menggunakan SKTM, lanjut Habib, maka orang tersebut bisa masuk ke kategori miskin. Namun, sekali lagi, ia menekankan agar SKTM itu tidak disalahgunakan.

Tidak hanya itu, Habib juga mengingatkan agar pemberian SKTM bisa tepat sasaran. “Karena tak semuanya masyarakat kita mau dikatakan miskin, namun diwaktu-waktu atau momen tertentu dipergunakan SKTM ini,” kata Habib.

Selain itu, terang dia, pemerintah sudah banyak program-program sosial untuk penanggulangan kemiskinan, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Beras Sejahtera (Rastra), Program Keluarga Harapan (PKH), Beasiswa Siswa Miskin (BSM), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan lainnya.

“Intinya kami dari pemprov inginkan adanya program-program yang ada dari seluruh kabupaten/kota untuk bersinergi dengan visi misi mewujudkan Kalteng BERKAH,” terang Habib.

Dalam rakor penanggulangan kemiskinan itu, dikatakan Habib, berdasarkan data BPS Maret 2018 ini persentase penduduk miskin di Kalteng mencapai 5,17 persen. Turun sebesar 0,09 persen dibandingkan September 2017 lalu yang mencapai 5,26 persen.

“Dengan jumlah penurunan penduduk miskin Maret mencapai 874 jiwa, jika dibandingkan di September 2017 lalu dari 137,884 jiwa menjadi 137,010 jiwa. Atau peringkat empat dibawah nasional tingkat kemiskinan penduduk, yang cenderung menurun dibandingkan tingkat kemiskinan nasional,” jelasnya. (ari/ami)

Berita Terkait