Jum`at, Tanggal 08-06-2018, jam 05:08:17
Seputar Kampanye dan Persaingan dalam Industri Perkebunan (1)

Kelapa Sawit Mampu Menyerap Karbon

Kelapa Sawit Mampu Menyerap Karbon
Seorang pengusaha kelapa sawit di Kalteng, Teguh Patriawan (kiri) usai diskusi terkait perkembangan kelapa sawit, kemarin. (UNI/KALTENG POS)

Indonesia kini menjadi produsen terbesar kelapa sawit di dunia. Namun industri ini selalu ditentang, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Ada apa dengan industri ini? Berikut catatan diskusi satu bersama dengan seorang pengusaha kelapa sawit di Kalteng.

 

MOHAMMAD ISMAIL, Palangka Raya

================================-

SENIN (4/6) sore menjelang buka puasa, awak redaksi Kalteng Pos berkesempatan berdiskusi dengan seorang pengusaha kelapa sawit di Kalteng, Teguh Patriawan. Hadir juga dalam diskusi tersebut Profesor Dr Salampak, Kepala Dinas Perkebunan Kalteng Rawing Rambang.

Meski usianya telah kepala tujuh, Teguh Patriawan tetap terlihat energik dan semangat. Apalagi ketika diajak berbicara tentang industri sawit. Satu jam ia memaparkan tentang perkembangan industri kelapa sawit.

Slide yang ia tampilkan merupakan papernya saat talkshow di Fakultas Kehutanan UGM, akhir tahun lalu. Alumnus Fakultas Kehutanan UGM ini memulai paparannya, kemampuan pohon atau pokok kelapa sawit menyerap karbon.

Bisa jadi banyak orang yang lupa atau baru tahu, jika kelapa sawit juga pohon. Karena pohon, tentu saja punya kemampuan menyerap karbon sebagaimana halnya pohon-pohon lainnya.

Kenapa persoalan karbon diangkat dalam paper ini? Karena salah satu persoalan lingkungan dunia saat ini adalah tingginya emisi yang dihasilkan sejumlah negara industri maju. Untuk menyelamatkan dunia dari pencemaran, disepakati Protocol Kyoto untuk negara-negara tertentu menurunkan emisi.

Negara-negara industri maju yang tak mampu memenuhi target penurunan emisi dengan upaya di negaranya sendiri, bisa membeli karbon ke negara lain. Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi incaran negara maju, sebagai tempat pembelian karbon yang sampai sekarang skemanya masih diperdebatkan.

Karena itu, negara-negara maju seperti Amerika dan Uni Eropa, menyoroti terkait dengan hutan Indonesia. Ketika kawasan hutan yang meski sudah tidak ada pohonnya berubah menjadi kebun kelapa sawit, negara-negera ini pun protes dan mengancam memboikot produk-produk sawit, karena dianggap merusak hutan.

Jika persoalannya adalah penyerapan karbon, betulkah pohon sawit tidak mampu menyerap karbon? Hal ini terbantah oleh hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Ada juga penelitian University of Hoheinhim, Stuttgart, Germany.

“Hasil penelitian kedua lembaga ini membuktikan akumulasi karbon pada pokok sawit selama rotasi tanam,” ujar Teguh.

Menurut Teguh, penelitian ini belum memperhitungkan adanya kandungan karbon dalam hasil produk yang dipanen selama masa rotasi tanam. Selama rotasi tanam 25-30 tahun, sawit mampu menyerap emisi karbon rata-rata 60 ton per hektare.

Manfaat penyerapan emisi karbon ini akan semakin besar, apabila penanaman pokok sawit dilakukan di lahan-lahan semak belukar, atau hutan yang sudah mengalami degradasi.

Jadi, berdasarkan penelitian, justru industri sawit melalui pokok pohonnya mampu menyerap emisi karbon. Berarti, terbantahkan bahwa industri sawit sebagai penghasil emisi. Namun sebaliknya, justru industri sawit melalui pohon mampu menyerap emisi.

Jika pohon sawit mampu menyerap emisi karbon, lalu apakah para pelaku industri sawit akan menjadikan itu sebagai alasan mengubah semua hutan-hutan sekunder menjadi hutan sawit? Teguh pun langsung membantah.

“Kami tidak setuju jika semua hutan diubah jadi kebuh-kebun sawit,” ujarnya.  Hutan-hutan primer dan hutan-hutan sekunder harus tetap ada dan dipertahankan karena keragaman hayatinya. Jadi nanti ada titik keseimbangan antara sawit, hutan, dan tanaman lain. (ce/bersambung)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 19 Aug 18


Minggu, 19-08-2018 : 08:44:31
Dapat Beasiswa S1 dari PLN, Hingga Kesempatan Jadi TNI

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan apresiasi tinggi kepada bocah pemanjat tiang bendera di Silawan, perbatasan Atambua (NTT)-Timor Leste, Yohanes Gama Marchal Lau. Karena itu, pela ... Read More

Minggu, 19-08-2018 : 08:02:37
Selain Kecapi, Ada Katambung dan Baju Khas Dayak

Pembuat alat musik tradisional di Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangka Raya, semakin jaran terlihat. Tetapi, mereka masih ada. Di era serba modern, mereka tetap setia dengan alat ukir dan paha ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 11:59:39
Target Luki, Bisa Masuk Delapan Besar

Tidak seperti cabang olahraga (cabor) dayung dan panahan yang menargetkan medali emas dalam Asian Games 2018. Petenis meja Kalteng yang memperkuat Indonesia di ajang ini, Muhammad Luki Purkani tak ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 07:54:10
Kelahiran Tak Terencana, Bingung Memberi Nama

Tidak semua pasangan suami istri (pasutri) yang beruntung, bisa dikaruniai anak bertepatan dengan momen Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Keberuntungan itu dirasaka ... Read More