Sabtu, Tanggal 09-06-2018, jam 05:02:26
Seputar Kampanye dan Persaingan dalam Industri Perkebunan (2/Habis)

Rivalitas Bisnis hingga Black Campaign Kelapa Sawit

Rivalitas Bisnis hingga Black Campaign Kelapa Sawit
Kelapa sawit di Kebun Raya Bogor, menjadi bukti bahwa kelapa sawit masuk Indonesia pada 1848. (DOKUMENTASI KALTENG POS)

Industri minyak sawit memiliki produktivitas tinggi, dibandingkan industri minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai. Demikian halnya dalam penggunaan lahan. Industri sawit enam kali lebih efisien.

 

MOHAMMAD ISMAIL, Palangka Raya

============================-

 

JIKA seluruh dataran Pulau Kalimantan yang memiliki luas 74 juta hektare ditanamami kedelai, masih perlu satu pulau lagi untuk bisa menghasilkan 51 juta ton minyak kedelai. Sedangkan untuk menghasilkan 65 juta ton minyak sawit, hanya perlu seperenam luas Pulau Kalimantan atau 18 juta hektare saja.

Tahun 2016, industri minyak kedelai dunia telah menggunakan lahan tanam 121 juta hektare. Sedangkan industri sawit baru menggunakan 18 juta hektare.

Perbandingan ini jelas menunjukkan, bahwa industri kelapa sawit jauh lebih efisien dibandingkan industri minyak kedelai dan minyak nabati lainnya, dalam penggunaan lahan.

Data-data angka yang disajikan oleh Teguh Patriawan, seorang pengusaha kelapa sawit dalam sebuah diskusi, Senin (4/6) dengan awak Redaksi Kalteng Pos, sedikit membuka fakta-fakta baru industri minyak nabati dunia saat ini.

“Keunggulan minyak sawit dibanding dengan minyak nabati lain, adalah produktivitas yang tinggi dan hemat pemakaian lahan,” tegas Teguh.

Kebutuhan minyak dan lemak dunia tiap tahun terus meningkat. Sejak tahun 2000-2006, data konsumsi minyak dan lemak meningkat sebesar 6 juta ton per tahun. Bilamana minyak sawit terhambat pengembangannya, maka tambahan permintaan dunia akan minyak nabati dan lemak, dengan sendirinya harus dipenuhi dari negara-negara subtropis, seperti Amerika, dan Eropa.

Meningkatnya permintaan minyak nabati dari negara subtropis, akan membawa konsekuensi pembukaan lahan enam kali lebih besar dibandingkan lahan untuk industri sawit. “Lahan yang diperlukan akan lebih luas, dan karbon emisi yang dihasilkan dari pembukaan lahan akan lebih tinggi,” ujar Teguh.

SAWIT COCOK

Kelapa sawit hanya cocok tumbuh di daerah-daerah tropika basah. Memiliki curah hujan di atas 2.000 mm per tahun, merata sepanjang tahun. Temperatur optimum 24-28 derajat celcius. Penyinaran matahari sekitar 6 jam per hari, merata sepanjang tahun. Keasaman tanah optimal 5,-5,5.

“Indonesia salah satu negara yang memiliki geografis dan iklim yang sangat sesuai dengan syarat tumbuh kelapa sawit,” ujar Teguh.

Sawit masuk Indonesia tahun 1848 di Kebun Raya Bogor. Ada empat pokok, dua poko dari Bourbon dan dua pokok dari Hortus Botanicus Amsterdam. Sampai tahun 1870, sawit hanya jadi tanaman hias di Deli Serdang, Sumatera Utara. Uji coba secara komersial baru dilakukan tahun 1911.

Tahun 1916, tanaman sawit mencapai 1.272 hektare. Seiring waktu, budi daya sawit berkembang dan menyebar ke seluruh Nusantara. Kini, komoditi sawit Indonesia menjadi nomor satu di dunia dalam hal suplai minyak nabati.

Total luas tanam sawit di Indonesia mencapai 11,6 juta hektare. Terbagi milik rakyat/plasma 4,7 juta hektare, milik BUMN 755 ribu hektare, dan miliki swasta PBS 6,7 juta hektare. Terluas ada di Riau, dengan hamparan mencapai 2,4 juta hectare. Kedua di Sumatera Utara 1,4 juta hectare. Dan ketiga di Kalteng 1,2 juta hektare. Sedangkan nilai ekspor CPO (crude palm oil) di tahun 2015, telah mencapai 15,3 juta hektare.

Secara ekonomi, sawit memberikan sejumlah kontribusi. Pertama, menyerap 5 juta tenaga kerja di dalam kegiatan perkebunan. Ditambah 3 juta di luar kebun. Menciptakan ekonomi kecil dalam kebun plasma. Telah menghasilkan devisa 17 miliar dolar setiap tahun dari ekspor CPO.

Sementara itu, kontribusi terhadap lingkungan, antara lain, hemat dalam penggunaan lahan. Produktivitas mencapai 10 kali dibanding minyak nabati lain. Memiliki potensi sebagai tanaman reboisasi di lahan-lahan terbuka dan telantar.

“Beberapa peneliti menyatakan, per hektare kebun sawit menyerap kurang lebih 65 juta ton bahan kering, dibandingkan dengan hutan tropis yang menyerap hanya 25,7 juta ton,” ujar Teguh.

Melihat berbagai keunggulan sawit dan kontribusi terhadap ekonomi dan lingkungan, kenapa selalu muncul kampanye hitam terhadap sawit. Kuat dugaan bahwa ini tak lepas dari persaingan bisnis industri minyak sawit dengan negara-negara subtropis penghasil minyak nabati lainnya. (*/ce)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 20 Aug 18


Senin, 20-08-2018 : 08:14:59
Kota Cantik “Banjir” Harapan

Banyak cara demi mendapat masukan dan saran untuk pembangunan. Seperti memanfaatkan media sosial. Itulah yang dilakukan wali kota Palangka Raya terpilih, Fairid Naparin.

JAMIL JANUANSYAH, ... Read More

Minggu, 19-08-2018 : 08:44:31
Dapat Beasiswa S1 dari PLN, Hingga Kesempatan Jadi TNI

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan apresiasi tinggi kepada bocah pemanjat tiang bendera di Silawan, perbatasan Atambua (NTT)-Timor Leste, Yohanes Gama Marchal Lau. Karena itu, pela ... Read More

Minggu, 19-08-2018 : 08:02:37
Selain Kecapi, Ada Katambung dan Baju Khas Dayak

Pembuat alat musik tradisional di Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangka Raya, semakin jaran terlihat. Tetapi, mereka masih ada. Di era serba modern, mereka tetap setia dengan alat ukir dan paha ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 11:59:39
Target Luki, Bisa Masuk Delapan Besar

Tidak seperti cabang olahraga (cabor) dayung dan panahan yang menargetkan medali emas dalam Asian Games 2018. Petenis meja Kalteng yang memperkuat Indonesia di ajang ini, Muhammad Luki Purkani tak ... Read More