Sabtu, Tanggal 30-06-2018, jam 08:50:32
Ketika Maestro Madihin, John Tralala Berpulang

Pesan Terakhir Inginkan Ada Penerusnya

Pesan Terakhir Inginkan Ada Penerusnya
John Tralala berpose dalam sebuah sesi foto pribadi. Dia memberi sumbangsih besar bagi seni dan kebudayaan Banjar. (GOOGLE PLUS/JHON TRALALA)

Manurut dokter ilmu kasihatan
Tatawa itu memang dianjurakan
Tapi jangan sampai tatawa katarusan
Kaina salah paham dikira lupa ingatan

====

ITULAH salah satu lirik madihin kocak yang pernah dibawakan John Tralala. Kemampuannya untuk membuat orang tertawa melalui syair Madihin membuat namanya terkenal di seluruh Indonesia. Sayang, kita mungkin tidak akan mendengar lagi lawakannya. Selasa sore (26/6), maestro Madihin itu mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergian pria bernama asli Yusran Effendi itu berkesan tiba-tiba. Pasalnya, Selasa pagi, John Tralala masih mengisi acara di Pondok Pesantren Al Musyidul Amin. Keadaan pria kelahiran Lampihong, 13 Juni 1959 itu masih sangat prima.

"Abah masih sehat sekali tadi pagi (Selasa,red). Makanya beliau datang di acara pondok pesantren dan mengisi acara di sana. Tak tahunya begini," ucap Hendra Hadi Wijaya, Putra Pertama John Tralala yang kerap menemani ayahnya membawakan Madihin.

Hendra mengatakan sepulang dari show di pesantren, John sempat beristirahat. Hingga pukul 13.30, sesak napasnya kembali kambuh. Tak berapa lama, kesadarannya kian menurun. Keluarga pun melarikan Jhon ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sayangnya, Tuhan menghendaki lain. Dokter menyebut John sudah tiada ketika dalam perjalanan.

"Lebih kurangnya pukul 14.43 WITA," jelas keluarga dari John Tralala.

Dia mengatakan, John memang kerap kambuh sesak napasnya, tapi biasa masih teratasi. "Nah baru hari ini yang benar-benar parah," sambungnya.

Di mata putra sulungnya Hendra, John adalah sosok yang luar biasa. Terutama di dalam keluarga. "Abah sosok yang tangguh. Mengajarkan saya tentang perjuangan hidup, mendidik hingga bisa seperti sekarang," ucapnya sembari menitikkan air mata.

Momen itu jelas membuatnya terpukul. Lawakan yang sering dilontarkan sang ayah akan membuatnya rindu. "Tak hanya di depan publik, ayah selalu membuat canda tawa. Termasuk ketika lagi kumpul keluarga," ujar Hendra.

Hendra sempat ditelpon ayahnya berturut-turut dalam tiga hari terakhir ayahnya. Selain membicarakan keperluan keluarga, John sempat berkali-kali menyelipkan pesan pada Hendra. Topiknya sama, yakni tentang penerus budaya berkesenian Madihin.

"Lewat telepon itu, berulang kali Abah berpesan jangan sampai budaya bemadihin putus di beliau. Harus ada penerusnya. Saya tidak berfirasat sama sekali kalau beliau akan kembali secepat ini," ucap Hendra.

Momen itu juga mengejutkan para seniman Kalsel. Muhammad Syahriel salah satunya. Seniman yang tergabung di Taman Budaya Kalsel ini mengaku tak menyangka dengan kepergian John. Baginya, John adalah sosok yang mempunyai semangat tinggi.

"Om John ini punya semangat tinggi. Walaupun dulu pernah terserang stroke, tapi beliau tetap aktif berkesenian. Tak hanya madihin, tapi ia juga terbuka ketika kami tawarkan tampil Mamanda bersama-sama," ujarnya.

John Tralala juga sosok yang karismatik menurut Syahril. Terutama posisinya sebagai seorang komedian. "Karismanya sebagai seorang komedian begitu melekat di pikiran banyak orang. Lawakannya sopan dan lucu. Konsistensinya di dunia seni membuat saya kagum," ucap Syahril.

Pujian juga datang dari warga Komplek John di Banyu Anyar. Mukhlis (50) warga setempat mengatakan John Tralala sosok yang bijaksana. Terutama soal menangani kerukunan antar tetangga. John Tralala memang ditunjuk sebagai Ketua RT 19 keluaran Banua Anyar. Bukan baru saja, melainkan sejak 7 tahun lalu. John dipercaya warga sekitar karena sikap kepemimpinannya yang matang. John selalu melibatkan warga dalam membuat keputusan.

"Kalau ada program atau permasalahan skitaran RT, Pak John selalu melibatkan kami. Tak pernah kami ditinggalkan setiap hendak membuat keputusan. Makanya kami betah menjadikan beliau ketua RT 19. Warga bahkan minta beliau jadi ketua RT seumur hidup," tuntasnya.

Karier di dunia lawak dimulai saat John Tralala membentuk grup lawak John Tralala Group pada tahun 1980. Grup itu beranggotakan tiga orang. Satu di antaranya adalah anaknya, Hendra Tralala. Sejak saat itu, grup lawak ini telah dua kali menjuarai lomba lawak tingkat nasional.

John telah menjadi ikon pelawak di Banjarmasin. Ia mengubah konsep lawakannya sekaligus mengenalkan budaya daerah Banjarmasin, Madihin, menjadi konsep Madihin yang bernuansa humor dan populer.

Jenazah John Tralala sendiri disemayamkan di rumah duka Jalan Pangeran Hidayatullah, Kompleks Banyu Anyar, Benua Anyar, Banjarmasin Timur dan dikebumikan di tempat pemakaman Pasar Arba Pemangkih, Gambut, Rabu (27/6) selepas salat Dzuhur. Almarhum meninggalkan empat orang anak. (mr-150/ay/ran)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 22 Jul 18


Sabtu, 21-07-2018 : 07:10:14
Didik Nini Thowok Gabungkan Tarian Dayak dan Makassar

Festival Kampung Buntoi 2018 menghadirkan maestro tari nusantara, Didik Nini Thowok. Seniman yang menguasai ratusan gerakan tari dari berbagai belahan dunia ini, kembali hadir pada Festival Kampung ... Read More

Rabu, 18-07-2018 : 05:22:28
Partai Nomor Urut 10, Daftar Bacaleg pukul 10.10 di Pemilu yang ke-10

DPW PPP Kalteng telah mengukir kisah manis di Pilkada Serentak 2018 se-Kalteng. Menohok di posisi 3, PPP berhasil mengantarkan paslon kepala daerah yang diusung menuju ke singgasana kekuasaan. ... Read More

Minggu, 15-07-2018 : 06:45:38
Belajar Sama Tetangga dan Meraih Dua Medali

Siapa sangka Hiu Li Ing yang awalnya tak menyukai cabang olahraga catur, akhirnya sukses menjadi juara. Bahkan awal menggelutinya, ia hanya main-main biasa. Mengisi waktu luang saja. siapa sang ... Read More

Sabtu, 14-07-2018 : 08:10:47
Minim Biaya, Ingin Sembuh dan Menjadi Guru

Siska Perunika terbaring lemah di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya. Ia divonis menderita penyakit TBC otak. Dalam keterbatasan biaya, Siska bertekad untuk segera sembuh, dan menggapai cita-cita ... Read More