Minggu, Tanggal 08-07-2018, jam 09:35:36

Tren Baru Bayar Bagasi Apa Lagi

Oleh: Dahlan Iskan
Tren Baru  Bayar Bagasi Apa Lagi
Dahlan Iskan

PELOPORNYA: bandara Hong Kong. Korbannya: bukan Anda. Sementara ini yang jadi korban adalah perusahaan penerbangan.

Entahlah kalau airlines akan meneruskan beban baru ini kepada penumpang. Kelak.

Meneruskan atau tidak mestinya saya tidak perlu peduli. Manajemen bandara Hong Kong bikin beban baru: untuk bagasi. Satu bagasi sekali pun.

Tiap bagasi harus dipungut biaya. Ongkos membawanya dari perut pesawat. Ke tempat pengambilan bagasi. Atau dari tempat check-in ke perut pesawat.

Mulai berlaku: tanggal 6 Juli 2018.

Biaya: tiap bagasi HKD 1,32. Atau sekitar Rp 3.000.

Itu memang uang receh. Dan bandara Hong Kong rupanya ingin juga mengincar uang receh.

‘Otak uang’ memang beda dengan otak-otak. Kelihatannya Rp 3 ribu rupiah. Tapi lihat perkaliannya: tiap hari ada 80.000 bagasi yang turun di Hong Kong.

Setahun harus dikalikan 75 juta penumpang. Asumsinya: tiap penumpang membawa satu bagasi.

Hasil perkalian itu: setiap tahun bandara Hong Kong bisa dapat tambahan pemasukan sekitar Rp 200 miliar. Tujuh tahun: Rp 1,4 triliun.

Pelajaran baiknya: jangan abaikan uang receh.

Lihatlah: berapa kali Anda terima foto atau video atau ucapan good morning di HP Anda. Biaya kirimnya mungkin hanya Rp 1. Tapi coba kalikan. Ratusan miliar rupiah setahun.

Memang bandara Hong Kong tidak berurusan dengan penumpang. Bandara memungut itu ke perusahaan penerbangan.

Tentu, yang terakhir itu pada protes. Tapi tetap saja tidak akan berani tidak terbang ke Hong Kong.

Bandara Hong Kong sebenarnya sudah kaya. Bahkan menjadi bandara paling berlaba di dunia.

Lihat angka ini: tahun lalu labanya hampir USD 1,5 miliar. Tepatnya: USD 1,46 miliar. Atau hampir Rp 20 triliun.

Pelajaran terbaik kedua: orang itu kian kaya kian rakus. Kian ingin lebih kaya. Tujuannya: agar menjadi yang terkaya. Itu pandangan negatifnya.

Sudut positifnya: agar bisa memberikan pelayanan lebih baik. Seperti kasus bandara Hong Kong ini. Berkat pelayanannya yang hebat jumlah penumpangnya naik terus.

Tahun ini akan mencapai 75 juta orang. Kian banyak saja pesawat yang ingin mendarat di Hong Kong.

Akibatnya: landasannya kurang. Padahal sudah punya dua landasan. Harus membangun landasan ketiga. Biayanya: HKD 140 miliar. Atau hampir Rp 400 triliun.

Begitu mahal?

Tentu. Bandara Hongkong itu dibangun di pulau kecil. Tanahnya sudah habis. Harus bikin daratan baru. Di laut yang cukup dalam.

Kalau Anda lagi mendarat di Hong Kong (dari arah barat), tengoklah ke kiri. Anda tentu melihat: kegiatan proyek di laut itu. Itulah proyek pembuatan landasan ketiga.

Peluang besar: harga pasir membumbung tinggi. Anda bisa jualan pasir ke Hong Kong.

Setidaknya bagasi Anda telah ikut mewujudkan landasan ketiga itu.

Tapi saya, tidak akan seperti Anda. tidak ikut menyumbang.

Mengapa?

Saya jarang membawa bagasi.(***)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 22 Jul 18


Sabtu, 21-07-2018 : 10:47:03
Menanti Kemampuan Menahan Diri

Kok tiba-tiba jadi panas begini? Dag-dig-dug begini? Presiden Donald Trump tiba-tiba saja bicara: lewat saja bandara Amerika Serikat. Yang mana saja. Boleh Houston. Boleh Dallas. Boleh San Diego. B ... Read More

Jum`at, 20-07-2018 : 02:23:19
Bermuara ke Yang Besar Juga

Muara persewaan sepeda ini akhirnya konglomerat juga. Tapi lihatlah riwayat lahirnya: lima mahasiswa punya hobi yang sama: bersepeda. Mereka pun membuat klub sepeda. Di Beijing.

Mereka me ... Read More

Kamis, 19-07-2018 : 03:23:56
Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia

INI bukan sepak bola. Yang tiap menjelang musim kompetisi terjadi transfer pemain. Klub kuat mengincar-incar: di klub mana ada ... Read More

Selasa, 17-07-2018 : 01:15:32
Speaker Dewan Rakyat dari Rayuan

Roda itu, meski lagi berputar ke bawah, tetaplah roda. Najib Razak sejak kemarin kembali berputar: dilantik menjadi anggota DPR. Dari dapilnya di Pahang. Pelantikan 222 anggota DPR itu dimulai deng ... Read More