Kamis, Tanggal 19-07-2018, jam 03:23:56

Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia

Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia
Oleh : Dahlan Iskan

INI bukan sepak bola. Yang tiap menjelang musim kompetisi terjadi transfer pemain. Klub kuat mengincar-incar: di klub mana ada pemain jadi. Yang bisa dibeli.

Karena ini bukan sepak bola. Justru partai lemah yang mengincar caleg jadi. Dari partai lemah lainnya.

Bahkan dari partai kuat sekali pun. Asal transaksi cocok.Mula-mula saya tidak paham arah pembicaraan seperti itu. Seolah pengetahuan sepak bola saya begitu dangkalnya. Tapi, oh. Ini bukan pembicaraan sepak bola.

Pembicaraan itu terjadi di ruang tunggu. Yang bicara para tokoh politik muda. Dari banyak partai. Di acara perkawinan hari Minggu lalu.

Tokoh Amal Ghozali yang mantu. Pengusaha pertanian yang sukses. Juga pengurus pusat Partai Demokrat. Di Taman Mini Indonesia Indah.

Saya dan Ustaz Yusuf Mansyur hanya diam mendengarkan. Sekilas. Tidak lagi tinggi minat kami berdua di bidang itu.

Bahkan saya lebih banyak di luar negeri. Belakangan ini. Dan yang akan datang.Pembicaraan mereka itu penuh dengan humor. Sesekali kami berdua ikut tertawa. Agar tidak tampak ganjil.

Tapi saya dan Ustaz Yusuf Mansyur lebih sering berbisik untuk topik lain. Seandainya masih ada minat politik, omongan mereka itu sungguh menarik.

Ada satu partai yang jadi pusat pembicaraan mereka. Yang hasil surveinya selama ini jeblok. Di bawah 2 persen. Tidak akan lolos masuk parlemen.

Hari itu baru saya tahu: ada batasan persentase empat persen untuk bisa masuk parlemen. Khas Indonesia, rupanya.

Saya juga baru tahu: Minggu malam itu adalah hari-hari menegangkan. Batas waktu pendaftaran calon anggota legislatif tinggal tiga hari.

Bisa terjadi saling geser posisi. Bisa saling tendang ke nomor sepatu–istilah untuk nomor urut terakhir. Tegang sekali, kata mereka. Saya sama sekali tidak tahu.

Saya pikir malam itu yang menegangkan hanya satu: final piala dunia. ?Bagian yang paling seru dari pembicaraan para politisi itu: bukan geser-menggeser calon di dalam satu partai. Tapi justru antarpartai.

Partai yang oleh para surveyor dinyatakan jeblok itu punya jalan pintar –eh, jalan pintas. Mencalonkan tokoh-tokoh dari partai lain. Yang sudah jadi tokoh. Yang perolehan suaranya dulu tinggi. Diminta pindah jadi calon partai tersebut. Sekarang ini.

Ruang tunggu itu sebenarnya menarik untuk direkam. Tapi kalau saya keluarkan kamera bisa saja pembicaraan terhenti.

Padahal omongan mereka lagi mencapai puncaknya: berapa miliar rupiah uang transfer mereka. Rp 2 miliar. Rp 3 miliar. Entah dari mana sumber datanya.

Bedanya dengan sepak bola: uang transfer itu tidak diterima partai tempat asalnya. Namanya pun bukan uang transfer: tapi bantuan biaya kampanye.

Mereka yang pindah itu tidak takut. Partai begitu lemahnya. KPU bukan seperti FIFA. Yang bisa memberi sanksi pada bintang sepak bola. Tidak ada juga VAR. Untuk mengecek kebenaran gerak-gerik politisi itu.

Mereka juga menyebut nama. Siapa dari partai di dapil mana: yang ditransfer ke partai itu. Saya belum bisa mengecek kebenarannya.

Daftar calon sementara masih di KPU. Untuk diteliti. Bukan masalah transfernya. Tapi dokumen pencalonannya.

PDI Perjuangan, kata pembicaraan di ruang tunggu itu, akan tergerus banyak. Partai Demokrat juga.

Bahkan orang segarang Oso tidak bergigi: Partai Hanura kabarnya kehilangan 14 caleg potensialnya. Lewat jalan pintas tadi.

Heran: menjelang final piala dunia hari itu tidak ada yang tertarik bicara bola. Politik memang menggiurkan –untuk yang belum insyaf.(***)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Aug 18


Sabtu, 18-08-2018 : 07:38:20
Superman Itu Tetangganya Sendiri

Merdeka!
Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam.

Merdeka!
Dan Turki berhasil menginjak rem tepat waktu: saat roda ekonominya berada di bibir jurang ... Read More

Jum`at, 17-08-2018 : 02:26:22
Sajak Sunyi Sebelum Sapi Sepi

Terasa merdeka! Tidur di padang sabana. Di Sumba. Dengan api unggun di dekat tenda.

Saya di Sumba lagi kemarin. Hampir saja bertemu David Beckham. Yang juga di Sumba.

Juga baru ... Read More

Kamis, 16-08-2018 : 02:49:36
Tit-for-Tat Setelah Telat 30 Menit

Hanya karena telat 30 menit. Harus bayar Rp 100 miliar. Betapa mahal perang dagang ini. Antara Amerika dan Tiongkok sekarang ini.

Yang telat itu kapal raksasa: The Peak Pegasus. Yang memu ... Read More

Rabu, 15-08-2018 : 03:10:33
Ujian Lira untuk Menantu-Mertua

Masih belum ada langkah nyata di Turki. Baru sebatas tekad: akan mengatasinya. Presiden Recep Tayyip Erdogan masih keras. Masih serba menolak.

Ogah menaikkan suku bunga. Ogah mengurangi d ... Read More