Jum`at, Tanggal 20-07-2018, jam 02:23:19

Bermuara ke Yang Besar Juga

Bermuara ke Yang Besar Juga
Oleh : Dahlan Iskan

Muara persewaan sepeda ini akhirnya konglomerat juga. Tapi lihatlah riwayat lahirnya: lima mahasiswa punya hobi yang sama: bersepeda. Mereka pun membuat klub sepeda. Di Beijing.

Mereka memang lagi kuliah di program bisnis di Beijing University. Yang sering mendapat gelar informal sebagai Harvard-nya Tiongkok.

Ketua klub sepeda itu bernama Dai Wei. Kelahiran tahun 1991. Asal: provinsi miskin Anhui.

Begitu lulus tahun 2013 Dai Wei harus ai guo: mengabdi di pedalaman. Mengajar matematika di pedesaan provinsi terpencil: Qinghai. Saya bisa membayangkan terpencilnya provinsi ini karena sudah tiga kali ke Qinghai.

Setahun di Qinghai ia ambil master di universitas yang sama. Belum lagi lulus, lima mahasiswa ini merumuskan gagasan: bisnis persewaan sepeda. Kecil-kecilan. Khusus untuk turis. Dan untuk lingkungan kampus.

Mereka pun mulai mencari dukungan dana. Sasaran pertamanya adalah: ikatan alumni program bisnis di universitas itu. Yang memang punya dana khusus: untuk mahasiwanya yang serius ingin memulai bisnis.

Dana itu cukup untuk membeli sepeda sebanyak 2.000 roda. (Di Tiongkok satuan untuk sepeda adalah ‘liang’ bukan ‘buah’).

Mereka mendirikan perusahaan: OfO. Pilihan nama itu terinspisari dari imajinasi: tiga huruf itu mirip sketsa orang naik sepeda.

OfO ternyata laris. Selama setahun itu penggunanya sudah 20.000.Tentu dana pertama tadi tidak cukup. Untuk mendukung gairah dan ambisi mereka.

Dicarilah dana dari perusahaan besar. Mereka incar perusahaan yang menyukai teknologi.

Yang merespons ternyata perusahaan telepon Xiaomi. Dan satu perusahaan lagi bernama Didi (baca: Titi).

Didi adalah perusahaan yang berhasil mematikan Uber di Tiongkok. Dengan cara membelinya. Dan menguburkan nama Uber di kuburan abadi.

Dari dua perusahaan itu Dai Wei mendapat dukungan dana USD 130 juta. Atau sekitar Rp 150 miliar.

Begitu mudahnya cari dana. Untuk ide yang hebat. Untuk langkah kecil yang sudah nyata.

Mulailah OfO mengetop. Bisa membuka persewaan sepeda di mana-mana. Warna kuning tiba-tiba memenuhi trotoar setiap kota.

OfO pun memasuki tahap yang disebut growing pain. Sakit akibat pertumbuhan. Sakitnya pun berat. Karena pertumbuhannya terlalu cepat. Artinya: OfO perlu dana yang lebih besar.

Didi berani menyuntikkan dana lagi. Lebih besar: USD 450 juta. Hampir Rp 600 miliar. Bersama perusahaan Rusia, Digital Sky Tech.

Grup Alibaba giliran tergiur. Ikut suntikkan dana USD 700 juta. Dan tahun ini Alibaba kembali menginjeksi lagi. Lebih besar lagi: USD 866 juta.

Perkembangan OfO memang menjadi luar biasa. Persewaan sepeda ini sudah beroperasi di 250 kota. Di 22 negara.

Waktu di Dallas, Texas, bulan lalu saya kaget: ada OfO juga di sana. Waktu ke St Louis, Missouri, juga ketemu OfO. Total OfO sudah memiliki sepeda sebanyak 10 juta liang.

Bermula dari ide lima mahasiswa. Hanya dalam lima tahun. Dari hobi bersepeda. Bisa memiliki perusahaan raksasa. Senilai Rp 14 triliun. Bisnisnya pun sepele: persewaan sepeda.

Memang sukses OfO menggeret banyak follower. Puluhan perusahaan lahir. Ikuti jejak OfO. Ada yang bertahan, ada yang langsung mati.

Mobike, yang sepedanya warna Manchester City, tergolong sukses juga: punya 9 juta sepeda. Beroperasi di 200 kota. Di 18 negara.

Tapi banyak juga yang mati. WukangBike hanya berumur 6 bulan. Beroperasinya di kota Chongqing: kota besar di bagian tengah Tiongkok. Yang penduduknya 50 juta. Yang umumnya lebih miskin dari wilayah Tiongkok timur.

Ditemukanlah penyebabnya: 90 persen sepedanya hilang!

Bukan berarti OfO atau Mobike tidak pernah kehilangan sepeda. Tahun lalu diadakan pencarian sepeda di sungai Mutiara. Yang melintasi Kota Guangzhou.

Hasilnya lumayan: 3.000 sepeda berhasil diangkat dari sungai. Rupanya tidak ada ikan yang berani memakannya.

Persewaan sepeda telah menjadi kisah sukses. Meski belum satu pun yang berhasil laba. Suksesnya masih di tahap ini: siapa yang meruginya paling besar dialah yang disebut paling sukses.

Tapi lima mahasiswa ini telah bisa mengubah kata mobil menjadi sepeda. Awalnya mereka tidak mungkin mampu membeli mobil. Cita-cita awal mereka hanyalah: bagaimana bisa menghubungkan mobil dengan mobil. Melalui sepeda. Sejauh-jauh mobil dikendara harus ada sepeda untuk jarak dekatnya.

Final persaingan sepeda sewaan nanti: tim Alibaba vs tim Tencent. Rasanya seperti itu. Kecil kemungkinan melesetnya.

Dua konglomerat terbesar di Tiongkok itu sedang berada di perempat final. OfO akan dibekingi Alibaba dan Mobike didukung Tencent.

Dunia modern kian bermuara ke yang besar-besar saja. Atau sekalian yang kecil-kecil saja. Tidak adakah tempat bagi yang sedang-sedang saja?(***)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Aug 18


Sabtu, 18-08-2018 : 07:38:20
Superman Itu Tetangganya Sendiri

Merdeka!
Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam.

Merdeka!
Dan Turki berhasil menginjak rem tepat waktu: saat roda ekonominya berada di bibir jurang ... Read More

Jum`at, 17-08-2018 : 02:26:22
Sajak Sunyi Sebelum Sapi Sepi

Terasa merdeka! Tidur di padang sabana. Di Sumba. Dengan api unggun di dekat tenda.

Saya di Sumba lagi kemarin. Hampir saja bertemu David Beckham. Yang juga di Sumba.

Juga baru ... Read More

Kamis, 16-08-2018 : 02:49:36
Tit-for-Tat Setelah Telat 30 Menit

Hanya karena telat 30 menit. Harus bayar Rp 100 miliar. Betapa mahal perang dagang ini. Antara Amerika dan Tiongkok sekarang ini.

Yang telat itu kapal raksasa: The Peak Pegasus. Yang memu ... Read More

Rabu, 15-08-2018 : 03:10:33
Ujian Lira untuk Menantu-Mertua

Masih belum ada langkah nyata di Turki. Baru sebatas tekad: akan mengatasinya. Presiden Recep Tayyip Erdogan masih keras. Masih serba menolak.

Ogah menaikkan suku bunga. Ogah mengurangi d ... Read More