Minggu, Tanggal 22-07-2018, jam 09:28:39

Kalteng Dilanda Kekeringan

Masyarakat Diminta Lebih Bijaksana Dalam Mengolah Lahannya Agar Jangan Terjadi Karhutla
Kalteng Dilanda Kekeringan
Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul R.K. Siregar ikut terjun langsung dalam memadamkan api dengan alat seadanya di areal lahan Jalan Bandeng Ujung, Jumat (20/7) malam. (AGUS PECE/KALTENG POS)

SELAMA Juli 2018, curah hujan di berbagai daerah di Kalteng sangat minim. Bahkan, beberapa hari terakhir, rata-rata wilayah Kalteng tidak ada turun hujan. Sehingga secara umum, Kalteng mulai mengalami kekeringan. Puncaknya, diprediksi Agustus-September 2018.

Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya Ika menjelaskan, selama 10 hari terakhir curah hujan di berbagai daerah memang tidak ada. Mereka memprediksikan Kalteng mulai masuk musim kemarau pada akhir Juli. Bumi Tambun Bungai dilanda kekeringan.

“Secara umum dari 5 BMKG yang ada di Kalteng ini tidak tercatat adanya hujan 10 hari terahir. Kalau selama 1 bulan kurang dari 150 itu masuk musim kemarau. Prediksi untuk masuk musim kemarau itu secara umum di Kalteng di Akhir Juli,” jelas Ika kepada Kalteng Pos, Sabtu (21/7).

Dia menjelaskan, salah satu cara menghitung masuknya musim kemarau dengan melihat curah hujan selama 10 hari terakhir kemudian diikuti dua dasawarsa berikutnya. Jika masih tidak ada hujan maka bisa dikatakan mulai masuk musim kemarau.

“Sudah terpantau 10 hari terakhir atau 1 dasawarsa ini tidak hujan. Kemudian diikuti dua dasarian berikutnya, itu masuk musim kemarau. Oleh karena itu kami memprediksikan akhir Juli masuk musim kemarau. Nanti prediksi puncak kemaraunya Agustus dan September,” ujar dia.

Dia menjelaskan, secara umum jika melihat 10 hari dari data curah hujan dari 5 BMKG Kalteng, potensi karhutla itu sangat rentan. Oleh karenanya jangan sampai sengaja membakar lahan atau lalai yang bisa menyebabkan kebakaran.

“Masyarakat diminta lebih bijaksana dalam mengolah lahannya. Agar jangan terjadi karhutla,” jelas dia.

Sementara itu sebelumnya, Kepala Bidang Operasi Posko Siaga Karhutla Kalteng Christian Rain menjelaskan, kedalaman muka air khususnya gambut akan bekurang jika tidak ada hujan.

“Kekerangan sampai September nanti itu luar biasa. Dengan data dari 5 stasiun BMKG di Kalteng ini bisa ditunjukkan betapa keringnya walayah Kalteng ini,” jelas dia, Jumat (20/7).

Pengalamannya selama bertugas pemadaman, dirasakannya ada masyarakat masih belum menyadari bahayanya karhutla pada bulan kering seperti Juli-September nanti. Sebab, ketika pihaknya melakukan pemadaman di lapangan, ada masyarakat yang terlihat tidak senang. Padahal, mereka sifatnya mengantisipasi agar tidak terjadi bencana asap seperti tahun 2015 lalu.

“Kami harapkan masyarakat bersabar untuk membakar. Musim ini sangat tidak bisa dtoleran. Kami juga sudah sebarkan maklumat kapolda terkait sanksi hukum bagi pembakar lahan,” jelas dia.

PALANGKA RAYA TERLAMBAT SIAGA DARURAT KARHUTLA

Sementara itu, terlambatnya penetapan siaga darurat karhutla Kota Palangka Raya, dari seluruh wilayah yang ada di Kalteng dikarenakan sejumlah faktor. Termasuk terkendala dengan beberapa unsur didalamnya. Tak pelak, penanganan karhutla dinilai terlambat.

Menurut Kepala Plt Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Sihang, melalui Kabid Penanggulangan Bencana Henora Koffeno, terlambatnya penetapan siaga darurat, karena belum ada waktu untuk berkoordinasi dengan tim Dansatgas. Sehingga pengajuan belum dapat diproses.

“Faktornya banyak, seperti karena waktu itu Dandim berganti, belum lagi saat itu bulan puasa, serta persiapan aparat keamanan untuk persiapan pilkada kota, makanya waktunya mundur terus dan baru sekarang dapat ditetapkan langsung oleh wali kota,” jelasnya kepada Kalteng Pos, kemarin.

Henora mengatakan, dengan telah ditetapkannya status siaga darurat karhutla oleh Wali Kota Palangka Raya, kemarin, pihaknya sudah dapat dengan leluasa bergerak untuk penanggulangan karhutal di Kota Palangka Raya. Termasuk penggunaan anggaran untuk karhutla ini.

“Sehingga dari kami sudah sangat senang ditetapkannya status ini dan akan lebih optimal dalam penanggulangan bencanan di kota ini,” terangnya.

Dirinya menegaskan, dengan adanya status tersebut anggaran yang sudah ada disiapkan Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya dan dana pusat dapat dipergunakan. Yang mana sekitar Rp.1,6 miliar itu bersumber dari dana bagi hasil reboisasi. Sedangkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Palangka Raya sekitar Rp.1.3 miliar.

“Termasuk ada sekitar Rp. 200 juta lebih itu rencananya akan digunakan untuk sosialisasi nantinya, dan juga. Serta sekitar Rp.1,1 miliar itu akan dipergunakan untuk operasional dan penggunaan embung-embung yang ada,” beber Henora.

Selain itu, dari sisi peralatan Kalteng dan Kota Palangka Raya khususnya sudah mendapatkan dua unit helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara, yang tidak dapat terjangkau melalui darat. Dan itu akan ada penambahan kembali dalam waktu dekat.

“Sehingga untuk optimal penanggulangan karhutla sudah memasuki musim kemarau ini, Kalteng akan mendapatkan dua lagi tambahan bantuan helikopter, artinya nanti akan ada tiga unit yang standbay di kota, dan satu unit akan ditempatkan di Kobar untuk memadamkan api dan sekitar wilayah sana,” ungkap Henora.

Untuk perkembangan karhutla untuk kota Palangka Raya sejauh ini, terang Henora, berdasarkan pemantauan dari Badan Meterelogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya, sampai tanggal 20 Juli kemarin ada sekitar 22 titik panas yang berpotensi adanya titik api. Sedangkan dari bulan Januari hingga sekarang ada sekitar 34 titik api terjadi di Kota Palangka Raya.

“Makanya perlu kita patrol dari sekarang ini setiap harinya ke seluruh wilayah yang dianggap paling rawan terjadinya karhutla, karena sebagian besar Kota Palangka Raya adalah daerah gambut,” pungkas Henora.

LAHAN SENGAJA DIBAKAR

Pembakaran hutan dan lahan alias karhutla, semakin merajalela. Seperti di daerah Jalan Banteng, Palangka Raya, diduga lahan dibakar pemiliknya. Kebakaran di Jalan Banteng, berjalan cukup lama. Sulit dipadamkan. Alat pemadam kebakaran tidak bisa masuk, sebab tempatnya jauh ke tengah hutan.

Hal ini tidak membuat pihak Kepolisian dan TNI kehabisan akal, Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul RK Siregar dan Dandim 1016/ Palangka Raya Letkol Czi Chandra Adibrat, bersama-sama berjibaku memadamkan api dengan dahan pohon yang ada. Pemdaman berlangsung sekitar dua jam, dengan dibantu oleh pihak BPBD dan pemdam lainnya.

Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul RK Siregar mengatakan alat pemadam tidak bisa masuk, karena lokasinya yang sulit di jangkau dan selang pemadam yang tidak bisa menjangkau kebakaran. Dan kondisi di lokasi kebakaran tidak ada air, takut api makin meluas. “Dandim 1016/ Palangka Raya Letkol Czi Chandra Adibrat dan saya memadam kan api menggunakan dahan pohon. Dengan dibantu oleh anggota lainnya,” terangnya, saat di lokasi kejadian, Jumat (20/7).

Dandim 1016/ Palangka Raya Letkol Czi Chandra Adibrat mengatakan pihaknya sebelumnya sudah siap dengan menggunakan peralatan lengkap, serta ada mobil water canon, mobil tangki. Namun saat di cek ke dalam, sangat sulit mobil untuk masuk.

“Oleh sebab itu, kami putuskan untuk memadamkan api dengan dahan pohon, agar api tidak meluas kemana-mana,” tegasnya. (idu/ari/uni/abe)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Aug 18


Sabtu, 18-08-2018 : 12:37:43
Wow…! Serba Paling di Asian Games 2018

STADION Utama Gelora Bung Karno, Jakarta bakal menjadi perhatian dunia, saat  Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 08:29:45
Lanjutkan Perjuangan dari Pejuang Terdahulu

PALANGKA RAYA-Upacara memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia digelar di Lapangan Sanaman Mantikei, kemarin (17/8). Wakil Gubernur Kalteng Habib Said Ismail didapuk m ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 08:24:04
Ruko Berkobar, Anak Tergores Kaca saat Selamatkan Barang

PANGKALAN BUN-Malam yang tenang di Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dalam sekejap berubah menjadi kepanikan. Penyebabnya, sebuah ruko tiga pintu di Jalan Pati Suradilaga tiba-tiba saj ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 08:02:40
Kabel Parabola Buat Gantung Diri. Alasannya Sepele

SAMPIT-Entah apa yang ada dalam benak MF. Pemuda berusia 27 tahun itu, memilih mengakhiri hidup lebih cepat. Kabel parabola yang ada di dapur rumah, dipakai sebagai sarana untuk ga ... Read More